Di UI, ada yang namanya Siak-NG, yi sistem informasi akademis – new Generation, tujuannya tentunya baik, jadi dimanapun mahasiswa berada dia dapat melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan status akademisnya secara on line, baik nilai, pembayaran, rencana studi, dll, juga bisa add/drop rencana studi, tanpa harus ke kampus. Bagus, memang keren sekali menurutku, apalagi untukku yang tidak tiap hari berada di kampus, system tersebut sangat memudahkan. Menyingkat waktu, mengirit biaya dan bisa diakses kapan saja selama masih bisa conect ke internet.
Itu menurut teorinya, pada prakteknya, khusus untukku, ternyata malah membuat tambah ruwet dibandingkan system manual atau system yang tidak online. Tiga kali aku dibuat pusing oleh system tersebut, dibuat mondar-mandir, bolak-balik dikarenakan sesuatu yang jelas-jelas bukan kesalahanku. Kenapa aku bisa bilang kalau itu bukan kesalahanku? Soalnya aku sama sekali tidak berbuat salah, lalai atau yang lainnya, dan hampir 100% mengikuti prosedur yang berlaku juga taat pada jadwal yang telah ditetapkan universitas.
Kejadian pertama aku dibuat bengong seharian, hanya untuk membayar uang kuliah. Bengong? Siang hari, pada jam kerja, staf karyawan dan beberapa pimpinan mengikuti pengajian menyambut bulan puasa, setelah pengajian yang berjam-jam diikuti dengan prasmanan dan ngobrol-ngobrol yang juga berjam-jam. Berpuluh mahasiswa menunggu diluar menunggu pelayanan mahasiswa dibuka kembali. Boleh marah? Tidak, tentu, karena mereka tengah mendengarkan pengajian, walaupun dari luar kedengarannya lebih banyak tertawanya seperti tengah menonton dagelan daripada mendengarkan ceramah keagamaan. Entahlah, tapi menurutku meski itu adalah acara pengajian rasanya tidak etis, karena dilaksanakan ditengah jam kerja, lagipula menurut ajaran agama Islam, bahwa bekerja pun adalah ibadah, melayani mahasiswa adalah ibadah, karena itu adalah pekerjaannya, melalaikannya itu adalah mendzalimi hak-hak mahasiswa yang memang jam nya untuk dilayani.
Kejadian kedua, saat mengisi IRS di SiakNG, mata kuliahku tidak ada, berkali kali dan berhari hari aku lihat secara on Line tetap tidak ada. Kufikir kesalahan system sampai akhirnya aku dipanggil manager pendidikan bersama beberapa teman yang mengalami kejadian yang sama, dan semakin yakin itu adalah kesalahan system karena bukan aku sendiri yang mengalami. Sampai didepan meja manager pendidikan, bukannya penjelasan yang diterima tapi benar-benar pelecehan dan sikap yang tidak bersahabat dengan marah-marah dan kata-kata yang ketus yang keluar dari seorang pejabat fakultas. Kita terhenyak, dari saat pertama menghadap, dan semakin shock ketika harus mengisi surat yang ditandatangani diatas materai bahwa kita tidak akan lagi mengulangi kebodohan semacam itu. Pejabat itu dengan matanya yang sinis mengejek, kalau kita benar-benar gaptek, belum pernah buka internet ya? Tanyanya. Kujelaskan masalahnya, ia tidak mau mendengar malah bilang, kenapa teman yang lain yang tidak iktu menghadap, yang seangkatan denganku bisa benar mengisi rencana studi. Kaget, dan benar-benar marah, untunglah temanku lebih sabar dan bisa menenangkanku untuk tidak marah “Ikuti saja kemauannya, tidak apa-apa, tidak akan rugi, tenang saja semester depan kita kan sudah lulus” temanku bilang dan aku luluh.
Kejadian ketiga, hanya menimpa aku sendirian, tetapi inipun bukan kesalahanku. Aku pernah cuti satu semester, sesuai kebijakan UI, pada masa cuti, masa studiku tidak dihitung, artinya, masa studiku masih ada satu semester lagi. Di catatan Siak-NG pun ada tertera. Saat mendekati batas pembayaran uang kuliah habis, kucek saldo di atmku tidak berkurang atau tidak didebet untuk bayar uang kuliah. Tentunya aku khawatir, karena melewati batas ada denda sebesar 50% dari jumlah uang kuliah, denda yang cukup besar tentunya. Langsung ku telpon BNI UI depok. Mendapat jawaban kalau NIMku tidak ada di BNI artinya aku sudah tidak terdaftar dan sarannya aku harus ke fakultas untuk mendapat penjelasan langkah selanjutnya agar bisa membayar uang kuliah. Dari sini aku sudah mulai heran, kenapa aku yang disuruh datang? Kenapa hal yang mudah, tinggal memasukkan NIM ku ke bank BNI, kemudian bank nya mendebet ATM ku, sepertinya akan dibuat susah? Tidak apalah kuturuti saja kemauan universitas aku harus datang ke depok, mudah2an sampai sana aku diberi pengantar dari univ. untuk bayar cash di bank, karena ternyata orang BNI pun tidak tahu no.rek universitas tempat membayar uang kuliah –aneh- seperti no rek. yang rahasia sekali, sehingga tidak ada satupun yang tahu yang punya akses kesana sekalipun orang Banknya sendiri. Dan harapanku tidak menjadi kenyataan, setelah menunggu 2 jam untuk satu lembar surat pengantar dari fakultas ke rektorat, di rektorat, direktorat keuanganpun, surat itu ditolak. Mereka bilang percuma karena sekalipun aku membayar cash, datanya tidak akan bisa mereka update. Jadi Direktorat keuangan rektorat pun tidak mau memberi surat pengantar ke Bank agar aku bisa bayar uang kuliah. Bolak-balik, naik turun lantai, di fakultas dan rektorat, di Dir.Keuangan lantai 4 aku menangis, benar-benar menangis, bukan karena aku lemah, cengeng karena hal sepele itu. Tapi aku menangisi pengorbananku hari itu rasanya tidak sesuai dengan masalah yang seharusnya mudah2 saja, bila UI punya standar operasional hal-hal yang harus dilakukan bila ada kejadian seperti yang menimpaku. Jadi antara fakultas dan rektorat tidak saling menyalahkan dan mengorbankan mahasiswa yang jelas-jelas tidak bersalah. Dan hampir semua yang terlibat disitu terfokus pada „apakah aku akan kena denda nantinya, bila membayar lebih dari batas waktu yang telah ditetapkan?“ Oh, God, Ya Allah, kenapa mereka itu tidak terfokus pada bagaimana menyelesaikan permasalahanku? Bagaimana cara menanganinya kalau ada mahasiswa lain yang mengalami masalah yang sama?
Kenapa uang, uang melulu yang ada dalam fikiran? Coba lihat PTN jadi BHMNpun, yang terfikir hanya bagaimana cara mengumpulkan dana dari masyarakat sehingga dapat menghidupi PTN. Uang kuliah naik tinggi, jalur khusus dibuat melibatkan puluhan juta rupiah per mahasiswa, uang denda dari 150 ribu rupiah jadi 3 juta lebih, jatah SPMB dikurangi, mengurangi jatah rakyat yang tidak mampu, jalur khusus diperbanyak. Adakah level profesionalitas ditingkatkan? 3 kali selama tiga semester aku mengalami hal-hal yang tidak menunjukkan tingkat profesionalitas administrasi yang bagus. Semua Dosen di PTN pun mengeluhkan sulitnya dapat fasilitas yang bagus, juga tingkat kesejahteraan dosen yang masih minim. Lalu untuk apa uang rakyat dikumpulkan, bila tak ada timbal baliknya untuk kemajuan pendidikan bangsa?